Mencari Salam Tempel Seminar

5 May 2017

Awal bulan ini saya menghadiri acara roadshow seminar yang digagas satu kementerian. Acara ini tertutup untuk tamu undangan, mahasiswa, dan beberapa komunitas. Kehadiran saya disebabkan teman di komunitas blogger (yang saya ikuti) menghubungi saya untuk hadir, sepertinya dia kesulitan memenuhi kuota blogger acara itu. Meskipun malas-malasan, saya bersedia menghadirinya, itung-itung bantu teman.

Ilustrasi (BN 2013 di Jogja).

Sewaktu registrasi ulang, saya lihat 2 orang bapak-bapak di depan saya agak bermasalah dengan pendaftaran, namanya tidak masuk data panitia. Ketika ditanya panitia berasal dari instansi mana, jawabannya tidak jelas dan beralasan, “Undangan saya ketinggalan di rumah.”

Salah seorang panitia berkata dengan lembut, “Acara ini hanya untuk undangan, Pak. Dan harus konfirmasi kehadiran kepada panitia.”

“Oh, harus konfirmasi ya. Saya tidak membalas konfirmasi.” Jawab bapak tersebut. Panitia meminta maaf karena tidak mengizinkan orang yang tidak konfirmasi undangan mengikuti acara roadshow.

Bapak yang di belakangnya hampir sama, dia 100% tidak memiliki bukti undangan dan mencoba mendaftar on the spot. Sayang, usahanya juga ditolak panitia. Keduanya lalu keluar dari auditorium entah kemana.

Bapak-bapak tersebut berpakaian rapi meski agak lusuh, memakai ikat pinggang dan sepatu, tak lupa menyangklong tas yang talinya seperti tak ingin lepas dari pundak.

–o0o–

Peristiwa ini mungkin pernah dialami para penyelenggara seminar, workshop, dan lainnya. Biasanya panitia juga membuka pendaftaran on the spot, terutama acara berbayar atau seminar yang hanya menyediakan snack.

Nah, di acara kemarin peserta mendapatkan “goodie bag” yang lumayan. Mungkin ini yang menjadi daya tarik kedua orang tersebut datang. Tapi acara ini tertutup, kok mereka bisa tahu?

Di dalam auditorium, saya duduk di sebelah orang yang mengaku blogger. Dia sering hadir di acara yang ada goodie bag dan makan besar, saya amati selama ini tingkahnya memang kurang beretika.

Selama acara dia berbincang dengan temannya, volume suara mereka hampir sama dengan pembicara, sehingga peserta di baris depan dan belakang mereka bisa mendengarnya. Ternyata mereka saling bertukar informasi dan pengalaman mengikuti berbagai acara. Ketahuan deh, acara ini bocor darinya.

Usai acara barulah saya tahu, ada komunitas pencari makan gratis dan goodie bag, terutama goodie bagnya “salam tempel”, mereka sering berbagi informasi di grup Whats App. Bahkan acara kedinasan juga bocor ke grup mereka.

Dia, sebut saja X bercerita kepada saya pengalamannya memburu salam tempel. Paling tidak sepekan 2 kali dia “keliling” Jogja. Salam tempel yang didapatkannya minimal Rp. 50.000 dan terbesar Rp. 150.000. Jika salah prediksi, paling apes X hanya mendapatkan snack.

Saya mengira komunitas seperti ini baru ada di Jakarta, ternyata sudah merembet ke daerah. Mereka bisa mengaku sebagai apa saja, termasuk sebagai blogger. Ciri mereka mudah dikenali, seperti yang sudah saya tulis sekilas di atas. Yang pernah berinteraksi dengan mereka pasti hafal dengan wajah-wajah mereka. Saya mendapat cerita dari teman, ada dikeluarkan dari acara karena ngomel-ngomel tidak puas hanya mendapatkan goodie bag. Beberapa dari mereka sudah dikenal dan masuk daftar hitam komunitas blogger.

Bagi para blogger yang mau mengadakan acara, agar lebih berhati-hati dan teliti ketika memilih peserta. Agar di saat pelaksanaan tidak membuat malu dan acara berjalan dengan lancar :) . Tabik.


TAGS sebal talkshow peristiwa komunitas


-

Author

Follow Me

Recent Post

Recent Comments