Operasi Gratis Upaya Menekan Jumlah Penderita Katarak di Indonesia

25 Apr 2017

“Lho, kenapa bu kok pakai kacamata?” Saya terheran melihat Bu Hanafi, tetangga rumah yang memakai kacamata mika bening.

“Ini habis operasi katarak, nggak boleh kena air selama sebulan, nggak boleh kena debu, nggak boleh ndingkluk. Kacamatanya dari sana” Jawab beliau sambil berjalan pulang, usai berjama’ah di mushalla.

“Ooo, kapan bu, kok saya nggak tahu?” Saya bertanya lagi, hanya dipisah dua rumah kok tidak mendengar kabar apapun tentang beliau.

“Sudah semingguan, di RS X. Operasinya tengah malam soale dokternya bisanya jam segitu. Di sana bisa pakai BPJS. Operasinya cepet, bisa langsung pulang” Terang Bu Hanafi sebelum membuka pintu pagar masuk rumah.

Penderita penyakit mata katarak terjangkit pada lansia, bahkan bisa dikatakan (maaf) lansia pasti sakit katarak. Ada beberapa macam gejala diantaranya penglihatan berkurang mata silau terkena cahaya terang, atau warna putih pada retina mata seperti selaput.

Bila tidak segera diatasi, katarak akan menyebabkan kebutaan. Menurut liputan6.com, meskipun tidak mematikan, 52% kebutaan masyarakat Indonesia diakibatkan oleh penyakit katarak. Bahkan penderita setiap tahunnya bertambah 0,1% dari jumlah penduduk.

Selain karena faktor usia dan kecelakaan, katarak bisa lebih cepat terjangkit pada usia muda karena diabetes melitus dan keturunan. Untuk mencegah katarak di usia tua, hindarilah sinar ultraviolet sinar matahari dengan menggunakan kacamata anti UV ketika berada di luar ruangan.

Satu-satunya (sampai sekarang) upaya mengatasi katarak adalah dengan operasi. Tapi biaya yang dikeluarkan terbilang mahal, puluhan juta harus dirogoh dari kocek penderita. Harga bisa menjulang tinggi tergantung lensa yang akan ditanam.

Secara garis besar, operasi katarak adalah mengganti lensa yang sudah mengeruh di retina mata dan menggantinya dengan lensa buatan baru. Dengan perkembangan teknologi, operasi katarak tidak perlu dirawat berhari-hari di rumah sakit. Cukup 10-15 menit operasi dapat diselesaikan tanpa sayatan dan jahitan di sekitar mata. Operasi tersebut dinamakan pacho emulsification dengan menggunakan sinar laser.

Bu Hanafi bersyukur, biaya yang dikeluarkan tidak banyak karena ditanggung BPJS. Bagaimana dengan masyarakat yang ada di bawah garis kemiskinan? Penderita katarak dari kalangan tersebut banyak sekali, apalagi dengan minimnya pengetahuan tentang katarak. Meskipun tahu menderita katarak, biasanya hanya pasrah karena biaya operasi katarak sangat mahal.

Untuk meringankan beban masyarakat ekonomi lemah serta upaya menekan jumlah penderita katarak, Yayasan Dharmais mengadakan operasi katarak dan bibir sumbing gratis selama dua hari di Yogyakarta. Operasi Katarak dipusatkan di RS Holistika Medika, sedangkan operasi bibir sumbing di RS Khusus Bedah Yogyakarta.

Operasi Katarak Gratis
Ahad 23 April 2017 di RS Holistika Medika yang berada Dusun Karangsari RT 006 RW 031 Wedomartani, Ngemplak, Sleman DIY bersiap diri melakukan operasi katarak. Pendaftaran peserta operasi katarak gratis sudah dimulai tanggal 3 Maret - 21 April 2017. Sedangkan screening (cek gula darah, tensi, dan mata) dilakukan pada 22 April 2017. Bakti sosial ini merupakan kerjasama Yayasan Dharmais, Perdami, Universitas Ahmad Dahlan, dan Madapala UAD.
RS UAD.
Di depan RS milik UAD ini telah berdiri tenda untuk tempat duduk pasien dan keluarganya (karena terbatasnya lahan RS). Sekaligus acara seremonial yang dihadiri oleh salah satu pembina Yayasan Dharmais Titiek Soeharto, Ketua yayasan Indra Kartasasmita, Rektor UAD Dr. Kasiyarno, M.Hum, Direktur RS Holistika Medika, PMI DIY GBPH Prabukusumo, Ketua Perdami DIY, dan segenap tamu undangan.

Ibu Titiek menyebutkan bahwa yayasan yang berdiri sejak 1975 ini telah menyalurkan bantuan Rp. 1 Trilliun lebih; untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan di masyarakat. Hal ini dilakukan sejak 1976 dan tetap konsisten hingga saat ini.

Beliau juga sempat berbincang dan memberikan tetes mata kepada pasien pra operasi katarak. Bersama rombongan juga menyempatkan diri memantau persiapan operasi di dalam rumah sakit.
Penetesan mata pada pasien pra operasi katarak.
Dr. Albaaza Nuady, Sp. M.; satu dari 18 orang yang ditugaskan Perdami Jogja untuk melaksanakan bakti sosial ini menyatakan, pasien akan dipantau H+2, H+5, H+28 paska operasi. Pada gelaran kali ini metode operasi yang digunakan adalah pacho emulsification.

Cek kesehatan sebelum dilakukan operasi.

Sehari sebelumnya, saya sempat berbincang dengan Ketua Pelaksana Kegiatan Suhariyanto. Beliau menyebutkan, “Sampai tadi jam 2 siang (14.00 WIB), yang mendaftar dan discreening di UAD hampir 200 orang, dan yang akan dioperasi sekitar 70 orang.”

“Yayasan Dharmais telah melakukan operasi katarak sejak 1986, dan operasi bibir sumbing sejak tahun 1997.” Imbuh beliau sebelum menutup perbincangan karena kesibukannya.

Konferensi pers di Indoluxe Hotel.

Kegiatan operasi katarak gratis kali ini, yang dioperasi sebanyak 55 orang. Paseien tidak hanya datang dari ruang lingkup DIY saja, namun juga dari Sumatra dan Kalimantan.

Semoga kita tetap diberi kesehatan, dan pasien yang dioperasi katarak diberi kesembuhan.


TAGS peristiwa sosial event kesehatan


-

Author

Follow Me

Recent Post

Recent Comments