Mempromosikan Pariwisata Jogja bersama Netizen

19 Feb 2017

Terobosan baru dilakukan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memperkenalkan pariwisata DIY. Bersama Dinas kominfo DIY, kedua instansi menggandeng Masdjo (Masyarakat Digital Jogja) mengeksplorasi pariwisata DIY yang belum terekspose secara luas. Yogyakarta tidak hanya Malioboro, Pantai Parangtritis, atau Gua Pindul. Masih banyak obyek wisata yang tak kalah menarik dari yang sudah dikenal banyak orang.

 Pemandangan dari Puncak Watu Bantal.

Selasa, 31 Januari 2017 Dispar DIY mengadakan Guyub Netizen Jogja di SAC, Jalan Sultan Agung Yogyakarta. Acara ini adalah tindak lanjut dari Digital Media Trip ke Geosite Nglanggeran pada 24 Januari 2017 lalu. Kebetulan saya juga ikut serta dalam rombongan trip. Acara Guyub Netizen ini membedah konten Geosite Nglanggeran yang telah ditulis para blogger yang ikut Digital Media Trip.

 

Pengumuman acara (sumber: @kominfodiy).

Hadir dalam kesempatan tersebut Kabid Pengembangan Destinasi Wisata Dispar DIY Arya Nugrahadi; GM Geopark Gunungsewu Ir. Budi Martono M.Si, para blogger, admin media sosial DIY, dan netizen. Dari rembugan ini disepakati adanya sinergi antara Dispar DIY dan Masdjo memperkenalkan pariwisata DIY (lebih mudah dengan sebutan Jogja) dengan keahlian masing-masing. Para blogger dengan tulisan di blog, sedangkan admin media sosial (buzzer) dengan update status/foto/twit.

Foto bersama usai acara.

Terbukti ketika acara ini berlangsung, hashtag #GeositeNglanggern berhasil menjadi trending topic di Twitter, mengalahkan para buzzer politik berbayar. Padahal, saya dan rekan-rekan yang datang tidak dibayar sepeserpun, hanya semangkok mie rebus…. hehehehe..

Terungkap, para blogger rata-rata menuliskan pengalaman ke Nglanggeran di blog masing-masing. Hanya segelintir yang menulis dari aspek sosiologi dan budaya. Dari 20 blogger dan admin yang ikut serta mengeksplore Nglanggeran, semua mengupload konten yang sama :).

Menurut saya hal tersebut lumrah, para admin mengejar like dan share; sedangkan blogger mengejar traffic DA, PA, page one di mesin pencarian Google, dan ranking Alexa. Apalagi waktu untuk mengeksplore Nglanggeran tidak banyak, padahal Ekowisata Nglanggeran demikian luas dan tidak bisa di dieksplorasi dalam setengah hari.

Sugeng Handoko dan Aris.

Acara ini juga dihadiri oleh dua Pokdarwis Geosite Nglanggeran, Mas Sugeng Handoko dan Aris. Keduanya juga mendampingi kami selama mengeksplore sebagian Geosite Nglanggeran. Sebagian orang agak meremehkan para Pokdarwis karena tinggal di daerah wisata, pendidikan paling juga tidak tinggi. Perlu diketahui, para Pokdarwis yang saya kenal di beberapa tempat wisata tamatan Perguruan Tinggi di Jogja. Mas Sugeng Handoko sendri adalah lulusan teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan yogyakarta, dan pernah memenangkan lomba Festival Blog 2010 (ada yang menuliskan pemenang di artikel ini)

Hasil evaluasi Digital Media Trip dan konten antara lain adalah trip selanjutnya lebih terencana dengan baik dan Masdjo diharapkan ada pemerataan tema konten. Dari konten yang terkumpul, pokdarwis obyek wisata dapat menggunakannya untuk dipublish di media sosial.

Sekilas Geosite Nglanggeran

Geosite Nglanggeran adalah salah satu bagian dari Geopark Gunungsewu yang membentang dari Kabupaten Pacitan, Kabupaten Wonogiri provinsi Jawa tengah, hingga Kabupaten Gunungkidul di provinsi DIY. Dari pemaparan Pak Budi Martono di Joglo Nglanggeran pada 24 januari 2017, usulan geopark kepada pemerintah tidak serta merta disetujui. Pada 2009 Pacitan sudah mengajukan wilayah geopark tapi ditolak, hingga akhirnya pada 2013 baru disahkan setelah area geopark diperluas, dan Kabupaten Gunungkidul adalah penyumbang terbanyak, ada 33 geosite yang berada di Gunungkidul.

Penetapan Geopark Gunungsewu.Kami diajak ke Kampung Pitu yang hanya dihuni oleh 7 Kepala Keluarga. Dari Kampung Pitu kami naik ke puncak 2 gunung; Gunung Wayang dan Puncak Watu Bantal. Hanya butuh 4 menit dengan berjalan kaki dari Kampung Pitu ke puncak Gunung Wayang, sedangkan dari Joglo Nglanggeran ke Kampung Pitu kami naik truk bak terbuka :).

Sebagian pemandangan dari Gunung Wayang,

Waktu ke Nglanggeran hujan menyertai kami, sehingga tanah yang dipijak becek. Gunung Wayang adalah 1 dari beberapa gunung di Nglanggeran dan puncaknya terdiri dari bebatuan. Ada peserta yang salah kostum, dia memakai sepatu anti air yang banyak dijual di pasar ;) . Akibatnya dia beberapa kali terpeleset karena tanah yang diinjak licin karena hujan. Saya sendiri memakai sepatu casual terbaru, bener-bener baru beli seminggu sebelumnya. Alhamdulillah aku nggak salah kostum, daya cengkeram alas sepatu yang saya gunakan lumayan bagus :).

Gunung Merapi dari kejauhan.Dari Gunung Wayang ke Puncak Watu Bantal hanya 7 menit, ciri khas Puncak Watu bantal adalah terdapat gazebo untuk istirahat. Naiknya cukup curam dan berbatu, kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset jatuh. Jika jatuh, hampir pasti luka terantuk batu.

Naik ke Puncak Watu Bantal.Sebelum maghrib kami sudah sampai di Joglo Nglanggeran, seperti biasa wajib foto bersama. Yang mengejutkan setelah sesi foto kami diajak ke Embung Nglanggeran (sudah pernah ditulis oleh Kang Didno) hingga akhir Maghrib.

Foto bersama.

Jika tidak ada aral melintang, ada 11 destinasi lagi yang akan dikujungi oleh Dispar DIY bersama Masdjo, semoga saya bisa ikut serta dan menceritakan pengalaman trip di 3 blog berbeda hehehe.


TAGS wisata


-

Author

Follow Me

Recent Post

Recent Comments