Ngemel Dulu Jika Ingin Terbebas Kemacetan

2 Nov 2016

Berita pungutan liar (pungli) paling menghebohkan baru-baru ini adalah kasus di Kementrian Perhubungan. Dalam sebuah Polisi menangkap beberapa orang dalam Operasi Tangkap Tangan. Tak tanggung-tanggung, Kepala Kepolisian RI hingga presiden menyempatkan datang di lokasi kejadian [baca berita: Polisi Tangkap Tangan Pungli Perizinan, Jokowi Datang Langsung ke Kemenhub]

Saya mengenal pungli sejak masih anak-anak. Orang tua saya mengatakan jika tidak membayar urusan tidak selesai. Karena informasi tidak sederas sekarang, orang dahulu menganggap pungli adalah sebuah aturan, mereka menganggap wajar harus membayar sejumlah uang agar suatu urusan cepat selesai.

Di era keterbukaan dan internet, semua informasi mudah didapat. Masyarakat tinggal mencari di internet, sebagian besar informasi harga barang dan jasa; khususnya terkait pelayanan publik akan muncul. Jika membayar di atas ketentuan yang berlaku, bisa diindikasikan suap atau pungli.

Tidak hanya dilakukan oleh oknum yang berada dalam lingkungan pemerintahan, pungli dilakukan pula oleh segelintir orang yang menguasai sesuatu yang dianggap penting atau strategis.

Ilustrasi bus.

Kemarin, saya terpaksa naik bus ekonomi untuk mencapai kota kecil di Pantai Utara Jawa. Tidak ada bus patas maupun AC ekonomi, adanya bus bumel ala kadarnya; hidup segan mati tak mau…., jelek banget. Pengusaha ingin memperbaiki armada, tapi setoran dari kru hanya pas-pasan karena masyarakat lebih memilih kendaraan pribadi. Penumpang tidak pernah mendapatkan karcis, karena panasnya cuaca; ada juga penumpang yang lepas kancing baju :).

Cuaca terasa gerah.
Belum separuh perjalanan, jalanan sudah macet. Kalau menurut media televisi saat Ramadhan, kemacetan di Pantura akibat pasar tumpah. Saya mengira begitu, namun ketika sampai di depan pasar ternyata pasar kosong. Ternyata pasar dalam tahap renovasi, lokasi pasar pun dipindah ke tempat lain. Jadi kemacetan ini karena apa?
Di dalam bus.
Sayup-sayup saya mendengar perbincangan telepon kondektur dengan seseorang. Intinya dia bertanya, apakah di sana kosong? Karena dia (bus) sudah sampai pasar, jika kosong dia akan goyang kanan. Beberapa saat usai mendapat kode dari kondektur, supir pun “menggoyang” bus ke kanan alias melaju di sisi jalan yang berlawanan arah, dan itu sejauh 1,5 kilometer! :)

Di ujung kemacetan sudah siap penjaga jalan yang menerima “salam tempel” dari kondektur. Ternyata kemacetan terjadi karena jalan sekitar 1 kilometer sedang dicor beton. Bus yang saya naiki sekarang berada di urutan nomor 3 dari depan, padahal sebelumnya berada di 1,5 kilometer jauh di belakang. :)

“Salam tempel” atau sering disebut “ngemel” sering dilakukan angkutan umum untuk “ngetag” atau pesan tempat agar perjalanan lancar. Mereka melakukan ini karena terpaksa, diburu jam trayek selanjutnya. Jika tidak ngemel, mereka kehilangan jam trayek dari terminal tujuan karena kemacetan bisa terjadi berjam-jam.

Enam bulan lalu di tempat terpisah, saya juga mengalami kemacetan parah. Kondektur sudah “ngemel” di satu titik, tapi tidak berdaya di titik kemacetan selanjutnya. Waktu itu saya mengalami kecemasan, jika terlambat saya bisa ketinggalan kereta. Alhamdulillah masih bisa mengejar kereta, meskipun ngos-ngosan lari ke stasiun dengan bawaan berat. Saya baru cetak tiket ketika kereta tiba, baru naik dan duduk lalu kereta berangkat.

Di satu sisi ngemel itu menguntungkan penumpang, di sisi lain perbuatan tersebut merugikan pengguna jalan lain dan termasuk pungli.

Pada akhirnya, kita harus sama-sama berbenah untuk tertib pada hukum dan peraturan yang berlaku. Mulailah pada diri sendiri dan keluarga, jangan memberi suap atau memungut sesuatu diluar peraturan. Jaga wibawa dan harga diri, serta ingatlah Tuhan Maha Tahu.


TAGS sosial gaya hidup peristiwa


-

Author

Follow Me

Recent Post

Recent Comments