Pelecehan Tidak Hanya Terjadi di Trans Jakarta

25 May 2016

Awal Maret 2016 saya pergi ke Semarang untuk satu keperluan. Dari Jogja naik bus AKAP lalu berganti bus BRT Semarang menuju ke Simpang Lima. Beruntung bus Koridor I yang saya tumpangi relatif kosong dan bisa mendapatkan tempat duduk, padahal bus yang datang 5 menit sebelumnya penuh sesak (Baca Dari Pasar Banyumanik ke Penggaron).

Seperti biasa, jalanan di sekitaran Tugu Muda macet siang itu. Di sekitaran depan Balai Kota, ada laki-laki sekitar 50an tahun yang duduk di depan saya bertanya ke kondektur yang kebetulan wanita, “Kalau mau ke Rumah Sakit Hermina turun mana?”

Kondektur cantik itu cuek saja berjalan ke belakang bus, saya pun tidak memperhatikan sekeliling karena asyik bermain handphone. Kemudian mbak kondektur balik lagi ke depan, laki-laki tersebut bertanya lagi kepadanya, “Mbak, saya itu tanya baik-baik kalau ke Rumah Sakit Hermina turun mana?”

“Nanti pak, turun di Pandanaran.” Ketus mbak kondektur pada orang tersebut.

Saya yang cuek saja sebelumnya, jadi agak perhatian dengan kejadian itu. Laki-laki tersebut sempat memegang mbak kondektur, makanya mbak tersebut sewot.

Sesampainya di halte II Pandanaran, mbak kondektur siap di pintu dan berkata, “Hermina turun, pak yang ke Hermina turun sini.”

Laki-laki tersebut memang cari masalah, dia menggoda mbak kondektur dan melakukan pelecehan fisik (memegang dan membelai tangan dengan sengaja). Apa yang dilakukannya sebelum saya naik BRT, tidak saya ketahui. Mbak kondektur dan laki-laki itu sempat adu mulut ketika turun. Laki-laki itu juga mengancam akan melaporkan kondektur kepada pengelola. Mbak kondektur juga cukup berani menantang untuk melaporkannya, namanya saja disebutkan kepada orang itu.

Di situ saya merasa bodoh, kenapa laki-laki itu tidak saya potret? Bus tersebut memang dipasangi CCTV tapi kameranya menghadap ke bawah alias tidak berfungsi :))). Saya merasa dia telah melecehkan mbak kondektur. Mbak kondektur terlihat murung dan tidak semangat setelah kejadian itu.

Mau lapor kemana juga tidak tahu, lapor via SMS dan telpon? tidak zaman lagi. BRT Semarang punya akun socmed, tapi isinya tidak kreatif, Twitternya hanya retwitan saja.

Ah sudahlah, mbak-mbak bekerja di BRT semoga tabah dan tidak terjadi peristiwa serupa. Pelecehan tidak hanya dilakukan oleh penumpang satu kepada penumpang lain, tapi juga penumpang ke awak Bus Rapid Trans, dan sudah mulai menyebar sampai daerah… bukan di Jakarta saja. Pelakunya? Bisa orang lokal, bisa saja pelaku pelecehan Jakarta yang mencari obyek baru.

Saya nulis di sini juga tak bakalan muncul di Google.


TAGS peristiwa


-

Author

Follow Me

Recent Post

Recent Comments