Jangan Tinggalkan Celah di Socmed agar Tidak Digugat

18 Dec 2014

Sampai tahun 2014 ini sudah lebih dari 70 orang yang menjadi korban dari penerapan pasal 27 ayat 3 UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) (sumber: vivanews). “Pasal 28 ayat 3 UU ITE ini memang sengaja disusupkan.” Hal ini diungkapkan Blontank Poer; pegiat social media dalam diskusi “Menggagas UU ITE yang melindungi Kebebasan Berpendapat” yang diselenggarakan oleh AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Yogyakarta di Hotel Arjuna Jalan Margo Utomo Yogyakarta 16 Desember 2014 lalu.

UU ITE pasal 27 ayat 3 tahun 2008 berbunyi:

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”

Terakhir yang gencar di beritakan di tahun 2014 ini adalah kasus Ervani Emi Handayani, warga Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Diskusi.
Diskusi Menggagas UU ITE yang melindungi.

Lebih lanjut Pak B (sebagian kalangan memanggilnya begitu) menerangkan bahwa (beberapa) social media adalah ranah umum. Artinya ketika kita berbicara di social media yang bisa diakses semua kalangan, sama halnya ketika kita berbicara di tempat umum. Jika dapat diakses publik lalu ada pihak yang tidak berkenan, percakapan di social media tersebut bisa dijadikan barang bukti.

Berbicara di dunia online sama halnya dengan berbicara di dunia nyata. Jika kita berbicara di tempat umum meskipun berdua, tetaplah itu ranah umum karena bisa diakses banyak orang. Lain halnya ketika ada dua orang berbicara sambil berbisik, atau berbicara di kamar, itu bukan konsumsi umum dan termasuk obrolan tertutup (privat).

Social media yang dapat diakses publik adalah Twitter, Facebook, Google Plus, Instagram, dan lain sebagainya. Yang jadi pengecualian adalah Path dan status yang hanya ditujukan kepada kalangan tertentu (tertutup).

Oleh sebab itu, pahamilah bahwa yang kita tuliskan akan dipertanggung jawabkan. Pikirkan baik-baik untung dan rugi ketika menuliskan sesuatu di social media. Pesan terakhir dari Pak B adalah, jika memang harus mengkritik atau nyinyir, buatlah tulisan yang tidak meninggalkan celah untuk digugat dengan pasal 28 ayat 3 UU ITE.

Diskusi ini juga menghadirkan Ervani, Bambang MBK (ketua AJI Yogyakarta), dan Samsudin Nurseha (ketua LBH Yogyakarta).


TAGS panduan


-

Author

Follow Me

Recent Post

Recent Comments