Konyolnya Ending Film Tenggelamnya Kapal van der Wijck

3 Jan 2014

1 Januari 2014 saya berkesempatan nonton film “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck” yang katanya dari novel berjudul sama karangan Buya Hamka. Enaknya ada tambahan kata apa? Disadur, diangkat, atau diadaptasi? Menurut saya kata yang tepat yaitu dinukil,.. Benar, film ini dinukil dari novel “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck”. Alasannya? Karena beberapa scene terasa janggal dan aneh. Saya belum pernah baca novel ini, tapi gaya bahasa karya sastra yang terbit di akhir tahun 1930an dan tata krama - sopan santun di masa itu begitu luar biasa.

Hajati.

Hajati.

Jadi, anda punya pilihan… Nonton film dulu baru baca novelnya, atau sebaliknya.. Terserah, tapi hasilnya mungkin sama: kecewa dengan filmnya! :twisted:

Saya sebenarnya cukup terpesona di awal film, tapi melihat kekonyolan di akhir film… dengan kata lain endingnya buruk. Happy ending adalah keputusan yang buruk untuk film ini karena memaksakan diri seperti “sinetron banget”. Misalkan anda nonton, lebih baik pulang saat meninggalnya Hajati (baca Hayati). Setelah itu adegan demi adegan nampak konyol :) .

==========

Awalnya bagus menurut saya, dengan pemilihan warna background (atau entah apa namanya di sinematografi) biru kalem. Tapi semenjak Zainoeddin (baca Zainudin) pindah ke Padang Pandjang, background jadi blink-blink kaya warna.

Belum selesai saya mengenal Zainoeddin, muncullah Hajati (Baca Hayati). Saling tertarik, namun ditentang oleh paman Hajati hingga Zainoeddin diusir dari Kampung Minang ke Padang Pandjang. Alur cerita ini terlalu cepat bagi saya dan sepertinya masih bisa diekplorasi lagi.

Selendang yang diberikan Hajati kepada Zainoeddin saat perpisahan pun hilang begitu saja saat Zainoedding sudah di Padang Pandjang. Tak ada lagi cerita selendang itu sampai akhir film.

Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

Munculnya Aziz menunggangi mobil bersama teman Belandanya terasa aneh. Musik terasa modern dan… tentu saja wajah-wajah Belanda di sini bukan keturunan Belanda. Entah bule dari mana yang penting main film :mrgreen: . Tahu kan ras Belanda? Lihatlah kemiripan para pemain bola dari Belanda. Mulai dari Marco van Basten, Dennis Bergkamp, Marc Overmars, Ruud van Nistelroy, Robin van Persie, Arjen Robben, Wesley Sneider, dan lain-lain.

Ada satu efek pelangi (seperti lens glare) yang tak perlu ditambahkan saat pacuan kuda. Tepatnya di kanan layar saat para joki memacu kudanya. Tribun pacuan kuda terlihat seperti efek visual alias tidak nyata. Saat penonton bersorak di tribun efeknya terlihat kasar, beda kelas dengan film Shaolin Soccer yang sama-sama menampilkan penonton di tribun stadion.

Zainoeddin memandangi Hajati.

Zainoeddin memandangi Hajati.

Bagaimana figuran di pacuan kuda ini? Penampilan mereka cukup lumayan :P .

==========

Usai terbaring sakit selama 2 bulan karena patah hati dicampakkan cintanya oleh Hajati, cara bicara Zainoeddin berubah seperti “ngeden” (bahasa Jawa artinya menahan), terlihat berbicara dengan menahan emosi. Tapi beberapa orang berpendapat lain, Junot (Herjunot Ali) lama-lama lucu dalam memerankan tokoh Zainoeddin.. tak seperti di awal film. Tahukah anda itu merupakan efek sakit selama 2 bulan?

Aziz meminang Hajati.

Aziz meminang Hajati.

Di Batavia, para figuran terlihat lucu.. Mondar-mandir seperti sinetron Indonesia, hampir semuanya memakai jas yang dipaksakan. Mengapa? Terlihat di film seorang pemuda yang kurang pantas memakai jas berjalan dengan seorang gadis, di belakang Zainoeddin dan Muluk :mrgreen: .

Orang-orang yang menangis saat membaca buku Zainoeddin terlihat lebay tidak natural, seperti saat kita menonton figuran di sinetron Indonesia sedang mengangguk tanda setuju :P . Sebenarnya anggukan lebay juga diperlihatkan oleh paman Hajati saat mendapat laporan kisah kasih Zainoeddin dan Hajati. Mantab banget deh ngangguknya :mrgreen:

Efek visual kapal van der Wijck terlihat masih kasar. Untuk ukuran film Indonesia cukup bagus, hanya itu loh figurannya sangaaat lebay.. Ngapain coba lambai-lambai sapu tangan berulang-ulang tanpa kenal lelah :mrgreen: .

Kapal virtual inipun hanya ditampilkan sekitar 5 menit, pemaksaan terhadap judul “Tenggelamnya Kapal van der Widjk”. Mungkin jika tidak mengekor kebesaran novel, judulnya “Karamnya Cinta Sejati”.

Poster Tenggelamnya Kapal van der Wijck (Courtesy Twitter Sorayafilm).

Poster Tenggelamnya Kapal van der Wijck (Courtesy Twitter Sorayafilm).

Konyol
Adegan konyol mulai terlihat saat pesta di rumah Zainoeddin di Soerabaia (Baca Surabaya). Adegan Zainoeddin mengenalkan Aziz dan Hajati kepada khalayak, tapi ucapan Zainoeddin tersebut tak diperhatikan khalayak alias dikacangin!! Adegan lain adalalah tarian di pesta tersebut. Terlalu modern di tahun 1938, demikian juga dengan kostumnya :mrgreen: .

Saat Hajati di Rumah Sakit menunggu ajal. Kata dokter, beberapa tulang rusuk hajati patah dan paru-parunya kemasukan banyak air. Tapi Hajati masih terlihat cantik, segar, tak terlihat raut pucat di wajahnya :P Kesalahan make up?

Adegan konyol lainnya adalah ciuman Zainoeddin kepada jasad Hajati. Apa-apaan ini? Sepanjang film kedua tokoh ini tak pernah bersentuhan, tapi kenapa tiba-tiba ada adegan ciuman segala? Apakah Zainoeddin hanya berani pegang-pegang mayat wanita, tapi tak berani dengan wanita hidup? Branding Zainoeddin langsung turun deh..

Konyolnya terus berlanjut ketika Zainoeddin pingsan setelah mencium Hajati. Mulut Hajati mungkin beracun.. Lucunya, Zainoeddin jatuh pingsan di sebelah perawat tapi perawat tersebut malah pergi! Dasar perawat tak bertanggung jawab!! :evil:

Mungkin film ini akan bagus jika berakhir sampai disitu, tapi kok ya konyolnya diterusin… :shock: .

Dua kekonyolan lagi menjelang film berakhir adalah nisan kubur Hajati tertulis Hayati, padahal di tiket kapal tertulis Hajati :mrgreen: . Pendirian Panti Asuhan Hayati juga terlalu maksa untuk happy ending. Di nisan tugu papan panti juga tertulis “Panti Asoehan Hayati”. Ingat-ingat ya.. pembuat film ini tidak teliti, tidak konsisten dengan edjaan lama.. #ngakakgulingguling. Harusnya Panti Asoehan Hajati :mrgreen: .

==========

Akting para pemain film ini saya nilai cukup bagus. Hanya beberapa catatan kecil untuk akting mereka:

Reza Rahadian sepertinya tak perlu dibahas, dia terlalu biasa bermain bagus. Satu yang agak mengganggu adalah saat dia bersama wanita saat berjudi. Sepertinya dia ingin mencium wanita yang berdiri di sampingnya tapi ragu-ragu.

Herjunot Ali juga bagus, sebagian orang menilai lebay (seperti yang saya dinggung di atas). Zainoeddin cara bicaranya berubah setelah sakit 2 bulan.

Pevita Pearce, kata orang aktingnya datar saja tanpa greget tapi justru itulah kelebihannya menurut saya. Meskipun sulit untuk mendapatkan piala citra, tapi karakter seperti Hajati memang ada di dunia nyata. Orang yang hampir tanpa ekspresi, intonasi suara datar, pemalu,, dan menyembunyikan perasaan. Bukankah wanita di tahun 1930an memang seperti itu? :P

Fuih,,, panjang juga tulisan tentang konyolnya film “Tenggelamnya Kapal van der Wijck”. Meskipun konyol di beberapa tempat tapi saya ingin menonton lagi, karena ada beberapa dialog yang belum saya hafal :mrgreen: .

Sebelum saya tutup, tadi sempat mencari via Google bagaimana akhir kisah Zainoeddin di novel karya Buya Hamka. Ternyata memang benar dugaan saya.. sad ending.


TAGS Review Film


-

Author

Follow Me

Recent Post

Recent Comments